Manajemen Industri Supply Chain Management

Standard

MANAJEMEN INDUSTRI SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Industri

Dosen : Muhammad Ali, MT

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

A. Pendahuluan

Pada saat ini supply chain management  menjadi sorotan dalam dunia industri.Problem pemilihan supplier  merupakan salah satu isu penting, karena pemilihan supplier  menjadi bagian dari sebuah supply chain maka hubungan tersebut akan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kelangsungan produksi. Inti utama dariSCM adalah proses distribusi. Distribusi adalah proses untuk memindahkan danmenyimpan barang mulai dari tingkat supplier  sampai ke tingkat pelanggan dalamrantai pasok. Distribusi yang optimal akan menjadi kunci dari keberhasilan perusahaandalam menjalankan bisnisnya, karena secara langsung proses distribusi akan berdampak pada biaya supply chain dan customer experince. Pihak yang terlibat dalam rantai pasok ini tidak hanya produsen dan

supplier saja, tetapi juga termasuk transportasi, warehouse,retailer, dan pelanggan. Sehingga perusahaan dalam hal ini produsen, jugaharus mempertimbangkan keberadaan dan pemilihan setiap entitas yang ada dalamrantai pasok ini.Dalam SCM ada banyak hal yang harus dipertimbangkan terkait dengan berbagaialiran dalam rantai pasok. Ada tiga tahapan yang digunakan dalam menyusun SCMyaitu, membuat desain jaringan rantai pasok, perencanaan rantai pasok, danmengendalikan operasi dalam rantai pasok tersebut (Chopra dan Meindl, 2001). Dariketiga tahapan tersebut desain jaringan rantai pasok atau sering disebut supply chain network  merupakan keputusan yang cukup penting, karena keputusan ini merupakankeputusan strategis jangka panjang yang cukup sulit dan memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan perubahan di dalamnya. Hal-hal yang terkait dalam tahap inidiantaranya adalah penentuan lokasi produksi, penentuan lokasi warehouse, pemilihan supplier , dsb. Keputusan memilih supplier  bukanlah sebuah hal yang mudah, padakenyataannya ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih supplier  yang berkualitas. Dahulu, pembelian barang cenderung dilakukan hanya untuk mendapatkan harga serendah mungkin, yaitu dengan menggunakan banyak supplier dengan perjanjian jangka pendek. Seiring dengan berkembangnya sistem produksi, misalnya denganadanya just in time (JIT), kecenderungan tersebut sekarang berubah dengan memberikanpenekanan lebih pada beberapa kriteria, daripada hanya menggunakan atribut harga supply_chain_management_istu_nugroho 3 Ada banyak kriteria yang muncul dalam masalah pemilihan supplier , namun dari sekianbanyak kriteria, ternyata harga yang ditawarkan olehsupplier , kualitassupplier , dan waktu pengiriman selalu muncul dalam masalah ini. Selain itu, resiko dapat menjadifaktor utama yang mempengaruhi pemilihan supplier . Resiko disini dapat berupa resikopenolakan barang pesanan, maupun resiko keterlambatan pengiriman barang. Sementaraharga yang ditawarkan oleh tiap-tiap supplier  juga sering kali berubah-ubah secarafluktuatif akibat dari kebijakan supplier sendiri maupun dari perubahan harga bahanbaku di pasar global.

 B. Pembahasan

1. Pengertian SCM

SCM diakui sebagai strategi kompetitif dalam sebuah industri maupunorganisasi. Organisasi terus berusaha untuk menyediakan produk dan layanan kepadapelanggan yang lebih cepat, murah, dan lebih baik daripada pesaing. Dalam mencapaikesuksesan, mereka harus bekerja atas dasar kerja sama dengan organisasi-organisasiyang berkaitan dengan penyediaan rantai agar dapat berhasil. Sebuah rantai suplaiterdiri dari semua pihak yang terlibat, langsung atau tidak langsung, dalam memenuhipermintaan pelanggan. SCM tidak hanya meliputi produsen dan pemasok, tetapi jugagudang, pengecer dan bahkan pelanggan sendiri. Dalam sebuah pabrik, SCM meliputisemua fungsi yang terlibat dalam menerima dan mengisi permintaan pelanggan. Fungsi-fungsi ini meliputi pengembangan produk baru, pemasaran, operasi, distribusi,keuangan, dan layanan pelanggan. Sebuah rantai pasok bersifat dinamis dan terus-menerus melibatkan arus informasi, produk, dan dana antara tahapan yang berbeda.

Pengertian supply menurut Indrajit dan Djokopranoto adalah sejumlah material yangdisimpan dan dirawat menurut aturan tertentu dalam tempat persediaan agar selaludalam keadaan siap pakai dan ditatausahakan dalam buku perusahaan.

Pengertian supply chain Menurut Schroeder adalah sebuah proses bisnis dan informasi yangberulang yang menyediakan produk atau layanan dari pemasok melalui prosespembuatan dan pendistribusian kepada konsumen. Sedangkan menurut Indrajit dan Djokopranoto supply chain adalah suatu tempat sistem organisasi menyalurkan barangproduksi dan jasanya kepada para pelanggannya. Rantai ini juga merupakan jaringandari berbagai organisasi yang saling berhubungan dan mempunyai tujuan yang sama,

supply_chain_management_istu_nugroho 5

2. Tujuan SCM

Berdasarkan dari definisi-definisi diatas maka tujuan dari SCM antara lain adalah:1) Supply chain manajemen menyangkut pertimbangan mengenai lokasi setiap fasilitasyang memiliki dampak terhadap aktivitas dan biaya dalam rangka memproduksi produk yang diinginkan pelanggan dari supplier dan pabrik hingga disimpan di gudang danpendistribusiannya ke sentra penjualan.2) Mencapai efisiensi aktivitas dan biaya seluruh sistem, total biaya sistem daritransportasi hingga distribusi persediaan bahan baku, proses kerja dan barang jadi.3) Untuk memastikan sebuah produk berada pada tempat dan waktu yang tepat untuk memenuhi permintaan konsumen tanpa menciptakan stok yang berlebihan ataukekurangan.4) untuk menjamin kesatuan gerak dari jumlah dan kwalitas yang memadai padapersediaan yang meliputi banyak hal seperti perencanaan dan komunikasi. Lebihsederhana lagi dapat diartikan bahwa tujuan dari management supply chain adalahuntuk memastikan seluruh item barang berada pada tempat dan waktu yang tepat agardapat memberikan keuntungan yang terbaik dan service kepada customer.5) Memaksimalkan keseluruhan nilai dari organisasi – organisasi pendukung industriyang berdampak pada kenaikan profit dan hubungan baik antar organisasi.

3. Komponen dasar SCM

Sistem informasi memiliki peranan penting dalam kesuksesan SCM yangdilakukan. Sistem informasi tersebut harus dapat menyediakan semua informasi yangdibutuhkan, antara lain mengenai:

• Informasi pendukung seperti data permintaan, peramalan, kolaborasi potensial,

• Supplier bahan baku,

• Inventory bahan baku dan produk jadi,

• Proses produksi,

• Jaringan distribusi,

• Pihak ke-3 penyedia layanan,

• Finansial,

• Konsumen.

Sistem informasi yang dibutuhkan hendaknya berbasis aplikasi web yang dapatmenyediakan informasi secara real-time, sehingga proses pengambilan keputusan dalamSCM dapat berjalan dengan baik.5 komponen dasar SCM adalah (Worthen & Wailgum, 2008):

supply_chain_management_istu_nugroho 7

a. Plan (Perencanaan)

Awal kesuksesan SCM adalah pada proses penentuan strategi SCM. Tujuanutama dari proses perumusan strategi adalah agar tercapainya efisiensi dan efektivitasbiaya dan terjaminnya kualitas produk yang dihasilkan hingga sampai ke konsumen.

b. Source (Sumber Barang)

Perusahaan harus memilih supplier bahan baku yang kredibel dan senggup untuk mendukung proses produksi yang akan dilakukan. Oleh sebab itu manejer SCM harusdapat menetapkan harga, mengelola pengiriman dan pembayaran bahan baku, sertamenjaga dan meningkatkan hubungan bisnis terhadap supplier.

c. Make (Manufacturing)

Komponen ini adalah tahap manufacturing. Manejer SCM melakukanpenyusunan jadwal aktivitas yang dibutuhkan dalam proses produksi, uji coba produk,pengemasan dan persiapan pengiriman produk. Tahap ini merupkan tahap yang palingpenting dalam SCM. Perusahaan juga harus mampu melakukan pengukuran kualitas,output produksi, dan produktivitas pekerja.

d. Deliver (Pengiriman)

Perusahaan memenuhi order dari permintaan konsumen, mengelola jarigangudang penyimpanan, memilih distributor untuk menyerahkan produk ke konsumen,dan mengatur sistem pembayaran.

e. Return (Pengembalian)

Perencana SCM harus membuat jaringan yang fleksibel dan responsif untuk produk cacat dari konsumen dan membentuk layanan aduan konsumen yang memilikimasalah dengan produk yang dikirimkan.Dengan demikian, hendaknya perusahaan selalu membuat laporan performansibisnis mereka secara rutin. Sehingga pimpinan perusahaan dapat mengetahui perubahanperforma bisnis yang telah dilakukan sesuai dengan tujuan awal dari SCM yang telahditetapkan.

4. Tahapan dalam SCM

Untuk mencapai supply chain yang terintregasi terdapat beberapa tahapan,diantaranya yaitu :

a. Tahap 1:

Baseline (Dasar)

Posisi dari kebebasan fungsional yang lengkap di mana masing-masing fungsi bisnisseperti produksi dan pembelian melakukan aktivitas mereka secara sendiri-sendiri danterpisah dari fungsi bisnis yang lain.

b.Tahap 2:

Integrasi FungsionalPerusahaan telah menyadari perlu sekurang-kurangnya ada penggabungan antara fungsi-fungsi yang melakukan aktivitas hampir sama, misalnya antara bagian distribusi danmanajemen persediaan atau pembelian dengan pengendalian material.

c.Tahap 3:

Integrasi secara internalDiperlukan pengadaan dan pelaksanaan perencanaan kerangka kerja end-to-end.

d.Tahap 4:

Integrasi secara eksternalIntegrasi supply chain yang sebenarnya dengan konsep menghubungkan dan koordinasiyang dicapai pada Tahap3, yang diperluas dengan bagian supplier dan pelanggan.

5. Keuntungan menerapkan SCM

Keuntungan dari menerapkan SCM menurut Indrajit dan Djokopranoto adalah:

  • Mengurangi inventori barang.Inventori merupakan aset perusahaan yang berkisar antara 30%-40% sedangkanbiaya penyimpanan barang berkisar 20%-40% dari nilai barang yang disimpan.
  • Menjamin kelancaran arus barang.Rangkaian perjalanan dari bahan baku sampai menjadi barang jadi dan diterimaoleh pemakai/pelanggan merupakan suatu mata rantai yang panjang (chain) yangperlu dikelola dengan baik.
  • Menjamin mutu.Jaminan mutu juga merupakan serangkaian mata rantai panjang yang harusdikelola dengan baik karena mutu barang jadi ditentukan tidak hanya oleh prosesproduksi tetapi juga oleh mutu bahan mentahnya dan mutu keamanan dalampengirimannya.

supply_chain_management_istu_nugroho 9

6. Fungsi SCM

Ada dua fungsi SCM, yaitu:a. SCM secara fisik mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi danmenghantarkannya ke pemakai akhir. Fungsi pertama ini berkaitan dengan ongkos-ongkos fisik, yaitu ongkos material, ongkos penyimpanan, ongkos produksi, ongkostransportasi dan sebagainya.b. SCM sebagai mediasi pasar, yakni memastikan bahwa apa yang di suplai oleh SCMmencerminkan aspirasi pelanggan atau pemakai akhir tersebut. Fungsi kedua iniberkaitan dengan biaya-biaya survey pasar, perancangan produk, serta biaya-biayaakibat tidak terpenuhinya aspirasi konsumen oleh produk yang disediakan oleh sebuahSCM. Ongkos-ongkos ini bisa berupa ongkos markdown, yakni penurunan harga produk yang tidak laku dijual dengan harga normal, atau ongkos kekurangan supply yang dinamakan dengan stockout cost.

7. Prinsip-prinsip SCM

Menurut Anderson, Britt dan Favre (1997) ada 7 prinsip dalam SCM yangdiperuntukkan bagi manajer dalam merumuskan keputusan strategis, yaitu:1) Segmentasi pelanggan berdasarkan kebutuhannya.2) Sesuaikan jaringan logistik untuk melayani kebutuhan pelanggan yang berbeda.3) Dengarkan sinyal pasar dan jadikan sinyal tersebut sebagai dasar dalam perencanaankebutuhan (demand planning) sehingga bisa menghasilkan ramalan yang konsisten danalokasi sumberdaya yang optimal.4) Diferensiasi produk pada titik yang lebih dekat dengan konsumen dan percepatkonversinya di sepanjang SCM.5) Kelola sumber-sumber suplai secara strategis untuk mengurangi ongkos kepemilikandari material maupun jasa.6) Kembangkan strategi teknologi untuk keseluruhan SCM yang mendukungpengambilan keputusan berhirarki serta berikan gambaran yang jelasdari aliran prouk, jasa maupun informasi.7) Adopsi pengukuran kinerja untuk sebuah SCM secara keseluruhan dengan maksuduntuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen akhir.

8. Supply Chain Management dan Teknologi Informasi

Konsep SCM tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi informasi(TI). Bahkan kalau dilihat dari sejarahnya, justru kemajuan TI inilah yang melahirkanprinsip-prinsip dasar supply chain. Alasannya adalah karena pengintegrasian berbagaiproses dan entitas bisnis di dalam manajamen supply chain adalah melakukanpenggunaan bersama-sama terhadap informasi yang dimiliki dan dihasilkan olehberbagai pihak. Secara umum, peranan TI di dalam manajemen supply chain dapatdilihat dari dua perspektif besar, yaitu perspektif teknis dan perspektif manajerial[Indrajit dan Djokopranoto, p137].1. Perspektif TeknisDilihat dari sisi teknis, ada dua fungsi dari teknologi informasi yang harusdipenuhi, yaitu:a) Fungsi penciptaanAspek-aspek yang harus dapat dilakukan oleh TI adalah sebagai berikut:

  • TI harus mampu menjadi medium atau sarana untuk mengubah fakta-fakta ataukejadian-kejadian sehari-hari yang dijumpai dalam bisnis perusahaan ke dalamformat data kuantitatif.
  • Teknoligi harus mampu mengubah data mentah yang telah dikumpulkannyatersebut menjadi informasi yang relevan bagi setiap penggunanya, yaitumanajemen, staf, konsumen, mitra bisnis, pemilik perusahaan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
  • Hasil dari pengambilan keputusan akan memberikan berbagai dampak langsungmaupun tidak langsung terhadap kinerja bisnis perusahaan. TI mengolahinformasi yang diperoleh dengan berbagai konteks organisasi yang ada menjadisebuah knowledge yang dapat diakses oleh semua pihak di dalam perusahaan.
  • Kumpulan dari knowledge yang diperoleh dan dipelajari selama perusahaanberoperasi akan menjadi bekal suatu kebijakan yang tidak ternilai harganya.b) Fungsi penyebaranTerhadap entitas fakta, data, informasi, knowledge tersebut TI memiliki fungsi-fungsi yang berhubungan dengan aspek penyebaran sebagai berikut:
  • Gathering.TI harus memiliki fasilitas-fasilitas yang mampu mengumpulkan entitas-entitastersebut dan meletakkannya di dalam suatu media penyimpanan digital.
  • Organising.Untuk memudahkan pencarian terhadap entitas-entitas tersebut di kemudianhari, TI harus memiliki mekanisme dalam mengorganisasikan penyimpananentitas-entitas tersebut ke dalam media penyimpanan.
  • Selecting.TI harus menyediakan fasilitas untuk memudahkan pencarian dan pemilihan.Synthesizing. TI harus mampu memenuhi kebutuhan manager dalam halmenggabungkan beberapa entitas menjadi satu kesatuan yang terintegrasi.
  • Distributing.TI harus mampu memiliki infrastruktur yang dapat menyalurkan berbagai entitasdari tempat penyimpanannya ke pihak-pihak yang membutuhkannya.2. Perspektif ManajerialDilihat dari sisi bisnis manajerial, terutama dalam kaitannya dengan manajemensupply chain, ada tiga peranan yang diharapkan oleh perusahaan dari implementasiefektif sebuah TI, yaitu :a) Mengurangi resiko (minimize risks)Pada umumnya resiko berasal dari adanya ketidakpastian dalam berbagai hal danaspek-aspek eksternal lain yang berada diluar perusahaan. Kehadiran TI selain harusmampu membantu perusahaan mengurangi resiko bisnis yang ada, perlu pula menjadisarana untuk membantu manajemen dalam mengelola resiko (managing risks) yangdihadapi sehari-hari.b) Mengurangi biaya (minimize costs)Tawaran lain yang ditawarkan TI adalah perbaikan efisiensi dan optimalisasi proses-proses bisnis di perusahaan. Ada empat cara yang ditawarkan TI untuk mengurangibiaya-biaya yang seringkali dikeluarkan untuk kegiatan operasional sehari-hari, yaitu :
  • Eliminasi proses.Implementasi berbagai komponen teknologi informasi akan mampumenghilangkan atau mengeliminasi proses yang dirasa tidak perlu (non valueadded process)

supply_chain_management_istu_nugroho 12

  • Simplifikasi proses.Berbagai proses yang panjang dan berbelit-belit (birokratis) biasanya dapatdisederhanakan dengan mengimplementasikan berbagai komponen TI (basisdatadan aplikasi misalnya).
  • Integrasi proses.TI juga mampu melakukan pengintegrasian beberapa proses menjadi satusehingga terasa lebih cepat dan praktis (secara langsung akan meningkatkankepuasan pelanggan juga).
  • Otomatisasi proses.Mengubah proses manual menjadi otomatis merupakan tawaran lain untuk mempermudah perusahaan melaksanakan kegiatan operasionalnya sehari-haridari TI.c) Menambah nilai (add value)Tujuan dari penciptaan value tidak saja sekedar memuaskan pelanggan(customer satisfaction), tetapi lebih jauh lagi untuk menciptakan loyalitas (customerloyalty) sehingga pelanggan tersebut selalu menjadi konsumennya untuk jangka panjang(customer bonding).

9. Jebakan dalam SCM

  • Pengukuran kinerja yang tidak terdefinisikan dengan baik
  • Customer service tidak didefinisikan dengan jelas
  • Status data pengiriman yang tidak akurat dan sering terlambat
  • Sistem informasi tidak efisien
  • Dampak ketidakpastian diabaikan
  • Kebijakan inventori terlalu sederhana
  • Diskriminasi terhadap internal customer
  • Koordinasi antar aktivitas suplai, produksi, & pengiriman tidak bagus
  • Analisis metode-metode pengiriman tidak lengkap
  • Definisi ongkos-ongkos persediaan tidak tepat
  • Ada kendala komunikasi antar organisasi
  • Perancangan dan operasional SCM dibuat secara terpisah
  • SCM tidak lengkap

Sumber : http://www.scribd.com/doc/57845775/Supply-Chain-Management

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s